Kaisar Pertama yang Berhasil Menyatukan Daratan China

Qin Shi Huang adalah orang yang berhasil menyatukan Tiongkok yang sangat luas di bawah bendera yang sama. Tak hanya itu, silakan sebut apa saja warisan sejarah dari Tiongkok yang terkenal sejak zaman kuno, seperti mata uang, Tembok Besar China, patung pasukan terakota di Xi’an, standarisasi ukuran dan alat ukur, penyeragaman tulisan, atau bahkan sistem kekaisaran China yang terpusat, itu semua adalah warisan dari Qin Shi Huang. Bisa dibayangkan, jika saja Qin tidak melakukan semua hal tersebut, mungkin saja China akan jatuh ke tangan para pemimpin feodal yang membagi kekuasaan kepada keturunannya.

Sumber penulisan sejarah Qin utamanya adalah Kitab Sejarah atau Catatan Sejarah Agung yang ditulis oleh Sima Qian (135 – 87 SM), yang hidup pada masa pemerintahan kaisar Wu dari dinasti Han barat. Dalam catatan inilah dijelaskan secara lengkap asal mula negeri Qin dan Zhao, termasuk perseteruan antar negara bagian pada zaman Negara-negara Berperang sampai kepada penyatuan China oleh Qin Shi Huang. Sumber sejarah lainnya adalah Intrik Negara-negara Berperang yang ditulis oleh Liu Xiang (77 – 8 SM). Buku ini menggambarkan perjalanan sejarah secara detail, jelas dan hidup, sehingga dapat membawa pembacanya seolah-olah kembali pada zaman yang penuh gejolak itu.

Namun dibalik semua pencapaiannya, Qin Shi Huang juga dikenal sebagai sosok yang sangat kejam. Ia takkan segan menghabisi nyawa orang-orang yang tak sejalan dengannya. Salah satu peristiwa mengenai hal ini pernah ia lakukan saat ia membunuh para cendekiawan yang tak sepaham dengannya.

Hal ini berawal jauh sebelum penyatuan dataran China, di mana Konfusianisme dan sejumlah filosofi lainnya berkembang pesat. Qin melihat pemikiran-pemikiran tersebut sebagai ancaman bagi kepemerintahannya, maka dari itu pada 213 SM ia memerintahkan semua karya tulis yang tidak berhubungan dengannya agar dibakar. Tak hanya itu, Qin juga mengubur hidup-hidup sekitar 400 orang cendekiawan, dan 700 lainnya dilempari batu hingga mati karena berani menentang dirinya.

Sejak saat itu, satu-satunya pemikiran yang diperbolehkan adalah legalisme. Ikuti hukum kaisar atau terima akibatnya.

Tak hanya menyatukan dataran China, Qin Shi Huang juga yang memerintahkan pembangunan tembok pertahanan yang sangat besar, yang kini disebut Tembok Besar China. Qin begitu aktif dalam rencananya ini. Alasannya adalah untuk mempertahankan diri dari pemberontak dari suku liar. Pekerjaan itu dilakukan oleh ratusan ribu orang yang diperbudak dan penjahat antara 220 dan 206 SM. Dalam hal ini, ribuan dari mereka tewas selama peristiwa tersebut.

Selain kejam, Qin juga sangat terobsesi dengan keabadian. Ketika umurnya semakin menua, ia semakin takut dengan kematian. Hingga akhirnya ia terobsesi untuk menciptakan ramuan keabadian, yang akan membuatnya bisa hidup selamanya.

Qin memerintahkan para ahli kimia untuk menciptakan ramuan abadi. Meski tidak mungkin, perintah kaisar adalah mutlak dan tak bisa ditolak. Tak banyak ahli yang berani mengantarkan ramuan hidup abadi, karena selain tidak mungkin, mereka akan dijebloskan ke penjara atau bahkan dijatuhi hukuman mati jikalau ramuannya gagal. Bahkan Qin juga ikut menghukum sekitar 400 alkemis yang tak terlibat.

Hingga akhirnya, pada tahun ke-5 kepemerintahannya, seorang ahli nujum bernama Xu Fu datang menghadap ke hadapan Qin. “Untuk bisa mendapatkan obat keabadian, seseorang harus membawa perjaka dan perawan untuk meminta obat itu. Maka Qin Shi Huang kemudian mengutus Xu Fu untuk memilih perjaka dan perawan terbaik sejumlah beberapa ribu orang, dan pergi ke samudera untuk mencari sang dewa,” demikian yang Sima Qian tulis dalam Catatan Sejarah Agung. Sayangnya, obat tersebut tak pernah ditemukan, dan Xu Fu tak pernah kembali dari perjalanannya yang kedua.

Qin Shi Huang wafat pada 10 September 210 SM saat berkeliling Tiongkok. Penyebab kematiannya kemungkinan besar karena keracunan merkuri yang merupakan isi dari banyak percobaan dalam pembuatan ramuan abadinya.

Di makamnya, Qin dijaga oleh pasukan terakota yang setidaknya berjumlah 8.000 patung tentara seukuran manusia yang setiap patungnya adalah individu karena memiliki ciri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pasukan terakota ini juga dilengkapi dengan kereta kuda dan senjata. Qin membangun ini untuk menjaganya di alam baka nanti, dan mungkin juga untuk menaklukkan surga seperti apa yang ia lakukan di bumi.

Jasa Qin Shi Huang memang sangatlah besar bagi peradaban China, namun sebagai manusia, ia adalah orang yang sangat kejam. Haruskah Qin dikenal dengan pencapaian monumentalnya atau tirani kejamnya adalah masalah perspektif. Terlepas dari semua kejahatannya, sosok Kaisar Pertama China Qin Shi Huang tetap dianggap mulia bagi rakyat Tiongkok.

Pemerintahan awal kaisar Qin Shi Huang Selama 8 tahun awal pemerintahan Qin Shi Huang, Lu Buwei bertindak sebagai walinya. Di masa-masa itu adalah periode tersulit bagi penguasa mana pun di China, karena negara masih terpecah menjadi 7 negara bagian yang saling bertikai, atau dikenal dengan Zaman Negara-negara Berperang. Ketujuh negara yang berperang itu, Qin (sekarang sebagian wilayah Shaanxi); Chu (sekarang wilayah Hunan, Hubei); Han (sekarang sebagian wilayah Shanxi); Qi (sekarang wilayah Shandong); Zhao (sekarang wilayah Hebei, Mongolia Dalam dan Shanxi); Wei (sekarang wilayah Henan); dan Yan (sekarang wilayah Hebei). Masing-masing menyatakan diri mereka sebagai raja saat pemerintahan Dinasti Zhou runtuh (770-256 SM). Qin Shi Huang juga berkali-kali menjadi target untuk dijatuhkan, termasuk oleh Lu Buwei. Pada 240 SM, dalam upaya untuk menggulingkan Qin Shi Huang, ia memperkenalkan ibu raja, Zhao Ji, kepada Lao Ai, seorang pria yang terkenal karena penis besarnya. Hubungan ibu raja itu dengan Lao Ai menghasilkan 2 putra. Setelah itu, Lao dan Lu Buwei segera melancarkan kudeta pada 238 SM. Lao mengumpulkan pasukan, dibantu oleh raja Wei, mereka mencoba merebut kendali saat Qin Shi Huang sedang bepergian.

Raja muda itu menindak keras pemberontakan dan menang. Lao dieksekusi dengan mengikat lengan, kaki, dan lehernya ke kuda, yang kemudian dipacu untuk berlari ke arah yang berlawanan. Seluruh keluarganya juga dibunuh, termasuk dua saudara tiri raja dan semua kerabat lainnya hingga derajat ketiga (paman, bibi, sepupu). Sementara ibu ratu terhindar, tetapi ia menghabiskan sisa hari-harinya di bawah tahanan rumah. Lalu, Lu Buwei dibuang dengan bayang-bayang ketakutan akan dieksekusi oleh Qin Shi Huang. Pada 235 SM, Lu bunuh diri dengan meminum racun. Dengan kematian Lu, raja berusia 24 tahun itu mengambil alih komando penuh atas kerajaan Qin. Semenjak insiden Lao Ai, kaisar muda kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya. Ditambah, muncul pembunuh bayaran yang dikirim pemimpin negara bagian Yan. Lalu, seorang musisi juga mencoba membunuhnya dengan memukul dengan kecapi seberat timah. Saat itu, Qin Shi Huang memiliki banyak musuh dari negara tetangga yang mengincar kematiannya, karena mereka meyakini Qin memiliki tentara paling kuat dan mereka takut diinvasi.

Ketakutan para pemimpin 6 negara lainnya itu ada benarnya, karena semakin matang kepemimpinan Qin Shi Huang, ia berhasil menaklukkan keenam negara bagian itu. Kerajaan Han jatuh ke tangan Qin Shi Huang pada 230 SM. Kerajaan Zhao ditaklukkan setahun kemudian pada 229 SM dengan memanfaatkan kondisi Zhao yang usia diguncang gempa dahsyat. Wei jatuh pada 225, diikuti oleh Chu yang kuat pada tahun 223. Qin menaklukkan Yan dan Zhao pada 222. Kerajaan independen terakhir, Qi, jatuh ke tangan Qin pada 221 SM. Dengan kekalahan 6 negara itu, Qin Shi Huang telah menyatukan China utara.

Sepanjang hidupnya, pasukannya terus memperluas batas selatan Kekaisaran Qin hingga wilayah yang sekarang disebut Vietnam. Raja Qin Shi Huang sekarang adalah Kaisar Qin China. Sebagai Kaisar, Qin Shi Huang mereorganisasi birokrasi, menghapuskan kaum bangsawan yang ada, dan menggantinya dengan pejabat yang ditunjuk. Penyatuan China diwarnai juga dengan kekerasan. Qin Shi Huang memandang kofusianisme dan sejumlah filosofi lainnya yang berkembang sebagai ancaman terhadap otoritasnya. Jadi, dia memerintahkan semua buku yang tidak terkait dengan pemerintahannya dibakar habis pada 213 SM. Kaisar pertama China itu juga mengubur hidup-hidup 460 sarjana pada 212 SM, karena berani melawan pendapatnya. Ada pun 700 lainnya dirajam sampai mati. Di masa itu, sekolah-sekolah hanya diperbolehkan mengikuti pemikiran kaisar. “Ikuti hukum Kaisar atau menghadapi konsekuensi”, hanya itu pilihannya.

Kaisar Pertama yang Berhasil Menyatukan Daratan China
Scroll to top